ARTIKEL /MASALAH MAKAN

Ajari Anak Mengenal Rasa Kenyang dan Lapar

Article Banner Image

Ajari Anak Mengenal Rasa Kenyang dan Lapar

Siapa yang tak mau memiliki anak yang gampang makan, dan mau mengonsumsi berbagai jenis makanan yang dihidangkan? Hal ini pasti menjadi impian setiap orangtua. Tapi kenyataannya, banyak anak yang justru menolak makanan atau bahkan tak mau makan sama sekali. Tak bisa dibiarkan terus menerus, bila hal ini terjadi, Anda harus segera bertindak cepat dengan mencari tahu penyebabnya, agar anak tetap mengonsumsi makanan yang sehat untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Ada beberapa alasan anak menolak makanan yang dihidangkan. Antara lain karena sakit, terdapat gangguan pencernaan, atau karena anak merasa terlalu kenyang. Bila masalah makan yang dialami anak disebabkan oleh sakit atau gangguan pencernaan, maka sebaiknya Anda segera membawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Namun, bila anak tidak mau makan karena terlalu kenyang, maka Anda harus mengubah pola makan anak.

Pola makan yang tepat akan menciptakan rasa kenyang dan lapar pada anak. Saat anak mengerti rasa lapar, maka ia pun akan semakin mudah mengonsumsi makanan, sebaliknya saat anak sudah merasa kenyang, maka ia pun akan berhenti makan dengan sendirinya. Dengan mengajari anak mengenal rasa kenyang dan lapar ini, anak pun bisa mengontrol makanan yang dikonsumsinya sehingga ia pun tidak akan makan terus menerus sehingga meningkatkan risiko obesitas

Rasa lapar sebetulnya berkaitan dengan masa pengosongan lambung. Normalnya, dalam waktu 90-120 menit, separuh volume makanan di lambung telah kosong. Saat inilah Anda bisa mengisi lambung si Kecil lagi dengan makanan sehat atau bentuk makanan yang lebih cair. Saat anak beranjak besar, waktu pengosongan lambung ini akan berlangsung lebih cepat.

Berdasarkan waktu pengosongan lambung tersebut, Anda bisa mengajari anak rasa lapar dan kenyang dengan menerapkan waktu makan dengan lebih disiplin. Terapkan tiga kali makan utama setiap hari dengan tambahan dua kali makan camilan. Contohnya:

  • Anak sarapan pukul 7 pagi dan usahakan berhenti pada pukul 07.30.
  • Berikan makan siang pada pukul 12.00 dan berhenti pada pukul 12.30. Di antara pukul 07.30 hingga pukul 12.00, Anda boleh memberikan makanan ringan atau snack yang sehat, yaitu pada pukul 10.00 agar anak tidak terlampau kelaparan menunggu jam makan siang tiba. Snack ringan ini bisa dalam bentuk satu gelas susu, buah potong atau puding.
  • Sementara untuk makan malam, Si Kecil bisa kembali makan pukul 18.00 dan berhenti pada pukul 18.30. Sama seperti snack pagi, Anda juga bisa memberikan camilan pada pukul 15.00. Hindari memberikan makanan ringan berdekatan dengan waktu makan, agar anak tidak terlalu kekenyangan.

Di luar jam-jam yang sudah Anda susun, sebaiknya hindari menawarkan makanan pada anak. Lakukan pengaturan makan ini secara konsisten, meskipun Anda sedang mengajak Si Kecil bepergian. Atur waktu dengan baik, agar jam makan anak tidak terlewatkan. Selain itu, batasi waktu makan anak hanya 30 menit setiap kali makan. Waktu makan yang terlalu lama dikhawatirkan bisa membuat anak menjadi bosan.

Agar anak tidak terlalu lama makan, berikan porsi yang pas untuk anak. Tidak terlalu banyak namun juga tak terlalu sedikit. Porsi makan yang tepat dapat memotivasi anak untuk menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Namun, Anda juga perlu tahu, bahwa anak bisa menentukan jumlah makanan yang dibutuhkannya. Sehingga, hindari memaksa anak untuk menghabiskan makanannya, sebab pemaksaan, apalagi yang disertai dengan ancaman justru dapat membuat anak semakin sulit makan.

Meskipun pengaturan makan penting, namun ibu juga harus tetap memerhatikan sinyal-sinyal anak saat ia merasa lapar dan kenyang. Segera berikan makan saat anak menunjukkan tanda-tanda lapar dan sebaliknya segera sudahi acara makan bila anak mulai menunjukkan tanda-tanda kenyang. Lambat laun, Anda akan menemukan pola makan anak sekaligus membentuk jadwal makan yang lebih disiplin.